Diusianya yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, namun kiprahnya di dunia literasi membuat kaum muda seperti saya gigit jari. Tidak membayangkan saja, kapan beliau menulis, ditengah kesibukan beliau. Saya dan beliau sama-sama hanya memiliki jatah waktu 24 jam sehari, dalam jatah waktu segitu beliau bisa, pasti saya juga bisa, begitulah saya memantapkan niat mengikuti pelatihan malam ini.
Di tengah mata yang sudah cukup sayu ini, sambil menidurkan gadis kecilku, ku tetap menahan diri untuk bisa mengikuti pelatihan dari pukul 19.00 WIB. Tepat pukul 19.00 WIB Bu Maesaroh sang moderator sudah menyapa kami dengan sapaan yang menggugah semangat malam.
Langsung deh, tidak banyak pendahuluan, Bu Maesaroh
menghatarkan kami ke materi mendaging dari Bu Kanjeng. Yuk kita simak baik-baik, semoga dari materi hari pertama ini menghantarakan kita menjadi penulis hebat.
Tuingg, muncul pertanyaan pertama yang sangat menggelitik, "Mengapa menulis menjadi passion yang menjanjikan?", begini penjelasannya beliau, kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir, hingga hari ini, profesi menulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial.
Selanjutnya beliau memberikan kami 3 huruf yang menjadi kunci kita menjadi penulis hebat, tiga huruf itu adalah W, H, Y.
Mengapa kita menulis? Bagaimana cara kita menulis? Kapan kita menulis? adalah pertanyaan pemancing untuk membuat panas suasana malam ini. Berterbangan alasan-alasan yang kemudian terpatahkan oleh diri saya sendiri. Saya tidak bakat menulis, saya sibuk tidak memiliki banyak waktu, saya sering nge-blank ditengah-tengah menulis, saya juga sering jengkel kalau sudah susah-susah nulis e di kritik, dan saya pun kadang berpikir, saya suka menulis apa tidak sih?
"Khoirunnas anfa'uhum linnas", sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lain. Sebuah hadist kembali merangkai serpihan-serpihan semangat yang sempat terpatahkan oleh self talk diriku sendiri. Kemudian saya merubah self talk saya menjadi "writing is my passion", Bismilllah.
Materi terus berlanjut pada langkah-langkah menjadi penulis yang baik. Bu Kanjeng menuturkan 4 langkah menjadi penulis yang baik, pertama adalah read, intinya adalah untuk menjadi penulis yang baik, kita harus menjadi pembaca yang baik pula. Kedua adalah discuss, ketiga nya adalah look and feel dari berbagai media dan yang terakhir socialize.
Setelah berhasil meracuni mindset peserta, Bu Kanjeng melanjutkan materi teknis writing preparation. Langkah-langkah yang deskriptif terurai dengan sangat gamblang dari menggali dan menemukan gagasan/ ide, menentukan tujuan, genre dan segmen pembaca, menentukan topik, membuat outline dan mengumpulkan materi.
Terakhir beliau menasehati peserta bahwa jangan takut kehabisan ide, karena ide bisa kita comot dari mana saja. Menulis merupakan ketrampilan yang membutuhkan kesabaran.
Jam dinding menunjukkan pukul 20.00 WIB, sesi pemateri ditutup dan dilanjutkan sesi tanya jawab. Peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan, jawaban-jawaban penggugah semangat pun mengiringi sesi tanya jawab ini. Beruntung sekali Alloh memberiku kesempatan bersilaturahmi dengan senior- senior yang ilmunya luar biasa. Terimakasih Bu Maesaroh, Bu Kanjeng, Om Jay dan tim PGRI, serta kawan literasi.

Keren. Ketahanan menghasilkan tulisan yang bagus.
BalasHapuskren bu yuli
BalasHapusSemangat terus Bu, keren😊
BalasHapusTulisan yang luar biasa dengan bahasa yang tertata baik...
BalasHapusKeren
BalasHapuskeren
BalasHapusMampir yu ke blog saya Jagoan Banten
BalasHapus